Barangkali kita sering menarik nafas panjang ketika melihat kaum Muslimah yang masih banyak yang memamerkan auratnya, bangga dengan kemolekan tubuhnya. Yang secara tidak langsung membagikan hak khusus suaminya kepada orang lain.
Ya…. Ya, ya itulah hidayah hanya Allah Ta’ala yang memiliki, meski manusia itu sendiri harus berusaha menjemput hidayah itu (Hidayah itu dicari bukan dinanti).
Apakah tidak tahu perintah wajibnya, berjilbab ?
Sebagai Muslimah pasti sudah tahu akan kewajiban menutup aurat tersebut, sebagaimana Allah Ta’ala memerintahkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab : 59
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka" yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Hanya saja, godaan begitu dahsyat membisiki manusia agar lalai pada perintah itu, apalagi disokong dengan gaya pergaulan yang katanya modis. Padahal memakai Jilbab tak kalah modisnya.
Lingkungan pergaulan yang mendukung pun, jika hati belum mau menjemput hidayah itu rasanya sesuatu yang menjadi momok buat sebagian wanita.
Kita bisa saksikan atau sering lihat, ditengah-tengah selfie :) dengan keluarga, sahabat yang semuanya berjilbab, masih saja ada yang nyempil yang tidak berjilbab.
Itulah fakta bahwa kekuatan hidayah itu hanya milikNya, kita hanya ditugaskan mengajak dan yang terus kita hujamkan dalam hati adalah do’a & baik sangka.
Berdo’a dan berbaik sangkalah…. yakinlah suatu saat saudara kita,sahabat kita yang saat ini belum berjilbab mungkin saja esok atau lusa dia akan jauh lebih ikhlas daripada yang sudah berjilbab saat ini.
Bila wanita yang sudah berjilbab ada rasa kesombongan, seakan-akan dia lah yang paling sholehah sekolong langit. Bila ada rasa menghinakan, terbesit dalam hati “huh…dasar calon penghuni Neraka”. Na udzu billahi min dzalik, itu harus dibuang jauh-jauh dari seorang hijaber.
Mendo’akan jauh lebih mulia ketimbang kita menghujat. Bisa jadi orang yang kita hujat, orang yang kita hinakan dikemudian hari akan jauh lebih ikhlas dalam mengamalkan perintahNya.
-Abu Rahid-

0 Comments