“Lagian siapa yang mau jadi Ketua RT?”
begitulah kira-kira pikiran dan respon kalau seseorang dicalonkan
menduduki jabatan yang paling ditakuti di dunia ini.
Pernyataan ini bukan dibesar-besarkan, tapi
kenyataan. Di jaman begini sibuk dan banyak persoalan, menjadi ketua rukun tetangga jelas adalah beban
tambahan yang dapat menambah beban kita.
Ada orang yang menghindar dari rapat,
menghindar dari aktifitas lingkungan dan banyak alasan super sibuk yang intinya bertujuan agar kita tidak
terlihat agak menonjol (sedikit saja)
yang akan membuat orang melirik dan mencalonkan diri kita dalam pemilihan RT putaran kelak.
Perasaan was was pasti ada, jangan-jangan
dicalonkan nih, gumam dalam hati.
Tapi bukankah ini suatu kepercayaan dan cukup bergengsi lho? Iya,
bergengsi, tapi kan tingkatan lokal,
RT gitu loh. Paling bangga juga waktu memberi sambutan dan
memberi hadiah ( buku dan kotak pensil atau handuk kecil) bagi
pemenang lomba pada perayaan 17’an ( HUT Kemerdekaan RI).
Berbatik dan berdandan klimis, agak terbungkuk-bungkuk maju ke depan
panggung yang dihias renda demikian semarak, dimulai dengan mengetes maik (mike atau apa
namanya dalam bahasa Indonesia
ya),
“e ehm, tes tes…selamat malam saudara sebangsa dan setanah air (dan senasib !). Adapun acara malam
ini, meskipun tetapi merupakan demikian, walaupun pula adalah
tetapi , untuk itu marilah ….dst”.
Pokoknya pidatonya belepotan tidak
ketulungan. Yang penting diujung
kita dapat tepukan dari hadirin, para ibu-ibu, tak ketinggalan anak-anak.
Kalau sudah terpilih RT mau apa lagi.Terima dan berkeja semampu mungkin. Ibadah sosial pasti, mudah-mudahan jadi amal jariah juga.. Amin.
Sebenarnya, apa sih
kegiatan (dan pentingnya) ketua RT ?
Aah masak ga tau sih? Ya itu, mimpin kerja bakti, memberi contoh
bagaimana memungut sampah dan memotong belukar disisi got dan empang yang mampat dengan lumpur dan sampah itu.
Walaupun sebentar tapi yang penting bisa sedikit memberi teladan
dan kesan bahwa kita cukup bertanggung jawab. Tidak lama kok,
ya mulainya jam 07.30 mulai halo-halonya lalu mulai jam 08.15 hari
minggu dan selesainya menjelang jam 10.45. Sekitar jam kan sudah
mulai panas dan biasanya orang
sudah pada cape dan tangan melepuh karena tidak biasa pegang
arit untuk motong rumput. Kok lama
ya, katanya cuma kasih contoh bawa pacul ? Lha iya lah, namanya ketua
RT , harus basa basi dan bubarnya harus paling akhir. Dia yang memulai
dan dia yang mengakhiri, begitu kira
kira kiasannya.
Belum jikabada keributan antar tetangga pasti pintu RT diketuk ga tau siang atau malam.
Dirumpi, dicaci bila RT tak idealis kurang memberi gizi...namun dilupakan jika berprestasi, bahkan dimuseumkan bila sudah pensiun.
Menjadi ketua RT ada pahalanya tanpa batas bila hati kian ikhlas. Disitulah terkadang saya merasa termotivasi.
Salam,
Kang Dedi

1 Comments
produsen mukena katun jepang